Masih segar dalam ingatan peristiwa kematian paus di perairan Wakatobi,
Sulawesi Tenggara yang ditemukan pada Senin (19/11/2018). Saat dibedah,
peneliti menemukan sampah plastik 5,9 kilogram dalam organ paus malang
tersebut.
Diwartakan Kompas.com (22/11/2018), para peneliti dan aktivis lingkungan
pun menduga penyebab utama kematian mamalia itu adalah sampah plastik yang tak
bisa dicerna oleh perut paus.
Banyaknya sampah plastik yang ada di perairan laut juga tak lepas dari
meningkatnya jumlah sampah plastik dari tahun ke tahun di bumi. Data ScienceMag
menyebutkan produksi sampah plastik dunia pada 1950 mencapai 2 juta ton per
tahun.
Pada 2015 atau 65 tahun setelah itu, produksi sampah sudah 381 juta ton
per tahun. Angka ini meningkat lebih dari 190 kali lipat, dengan rata-rata
peningkatan sebesar 5,8 ton per tahun.
Bagaimana dengan Indonesia? Berdasarkan data Asosiasi Industri Plastik
Indonesia (INAPLAS) dan Badan Pusat Statistik (BPS) , sampah plastik di Indonesia
mencapai 64 juta ton per tahun. Dari jumlah itu, sebanyak 3,2 juta ton
merupakan sampah plastik yang dibuang ke laut.
Mengingat plastik merupakan bahan yang sulit terurai (hingga 70 tahun),
limbah plastik yang menumpuk tersebut tentu memberikan efek domino terhadap
lingkungan.
Maka dari itu, diperlukan berbagai upaya dan kesadaran untuk
#Bijakberplastik. Berikut adalah beberapa cara sederhana untuk menekan
penggunaan plastik dalam kehidupan sehari-hari.
1. Membawa kantong belanjaan
sendiri
Membawa kantong belanja sendiri merupakan tindakan sederhana yang bisa
dilakukan dalam mengurangi produksi sampah plastik. Keberadaan kantong belanja
pribadi saat ini sangat mudah ditemukan, desainnya pun sudah beragam dan
memiliki karakteristik yang praktis serta dapat dilipat hingga ukuran
minimalis.
2. Kumpulkan untuk Daur ulang
Selain mengusahakan mengurangi penggunaan plastik, penerapan konsep 3R
(reduce, reuse, recycle) bisa juga dapat dilakukan. Saat ini, ada banyak sekali
kebijakan dari seluruh elemen (baik pemerintah atau swasta) dengan menghadirkan
kemasan yang dapat didaur ulang. Terlebih perusahaan global saat ini tengah
berfokus pada konsep ekonomi sirkular yang memiliki tujuan mengurangi emisi
limbah serta efisiensi dalam hal eksploitasi sumber daya alam. Salah satu
contohnya adalah produk Aqua. Produsen air minum dalam kemasan ini telah
menghadirkan botol 1,1 liter 100 persen bahan plastik daur ulang. Kemasannya
juga dapat kembali didaur ulang, tanpa label dan tanpa motif tambahan. Inovasi
ini merupakan yang pertama di Indonesia dan sudah diterapkan pada awal tahun
ini di Bali dan akan segera menyusul di Jakarta.
3. Tidak menggunakan sedotan atau
sendok berbahan plastik
Bisnis kuliner menjadi wilayah yang kerap menggunakan kemasan berbahan
plastik. Kantong, sedotan, gelas hingga sendok berbahan plastik menjadi hal
yang lumrah ditemukan saat mengunjungi tempat kuliner. Maka dari itu hal
sederhana selanjutnya adalah memulai untuk menghentikan ketegantungan akan
barang-barang tersebut.
4. Tanam kebiasaan memasak dan
makan di rumah
Kebiasaan membeli makanan dalam kemasan tidak hanya akan menambah beban
jumlah sampah plastik, tapi juga berdampak pada kesehatan. Maka tidak ada
salahnya untuk memperbanyak konsumsi makanan segar. Penelitian di Portland,
Amerika Serikat menunjukan bahwa menggunakan makanan segar dapat menghemat
pengeluaran sekitar 30-60 persen. Perubahan besar dimulai dari hal yang kecil
seperti mulai melalui diri sendiri. Sudah saatnya sadar betapa pentingnya
menjaga keseimbangan alam untuk generasi penerus. Sayangi dan jaga lingkungan
laut di sekitar kita.
Sumber : Kompas.com










EmoticonEmoticon